• About
  • Get Jnews
  • Contcat Us
Senin, Mei 18, 2026
CERMIN DUNIA
No Result
View All Result
  • Login
  • News

    Crashed Lion Air Jet Had Faulty Speed Readings on Last 4 Flights

    Police Officers From The K9 Unit During A Operation To Find Victims

    People Tiring of Demonstration, Except Protesters in Jakarta

    Limited underwater visibility hampers search for flight JT610

    Search Teams Recover Seats, Wheels From Indonesia Jet Crash Site

    Mount Rinjani to be closed following the Lombok earthquake

    Trending Tags

    • Commentary
    • Featured
    • Event
    • Editorial
  • Politics
  • Football
  • BERITA DUNIA
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Travel
  • News

    Crashed Lion Air Jet Had Faulty Speed Readings on Last 4 Flights

    Police Officers From The K9 Unit During A Operation To Find Victims

    People Tiring of Demonstration, Except Protesters in Jakarta

    Limited underwater visibility hampers search for flight JT610

    Search Teams Recover Seats, Wheels From Indonesia Jet Crash Site

    Mount Rinjani to be closed following the Lombok earthquake

    Trending Tags

    • Commentary
    • Featured
    • Event
    • Editorial
  • Politics
  • Football
  • BERITA DUNIA
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Travel
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
Home BERITA DUNIA

Dendam Dipecat, Saudara Kembar Hapus Data Pemerintah

CERMIN DUNIA by CERMIN DUNIA
Mei 18, 2026
in BERITA DUNIA
0
Dendam Dipecat, Saudara Kembar Hapus Data Pemerintah
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kasus kejahatan siber kembali mengguncang Amerika Serikat setelah dua saudara kembar didakwa karena menghapus puluhan database pemerintah federal hanya beberapa menit setelah mereka dipecat dari perusahaan tempat mereka bekerja. Aksi tersebut tidak hanya menyebabkan kerugian besar, tetapi juga memunculkan pertanyaan serius tentang keamanan data pemerintah dan proses perekrutan di industri teknologi.

Dua saudara itu adalah Muneeb Akhter dan Sohaib Akhter, warga Virginia berusia 34 tahun. Keduanya diketahui bekerja di perusahaan kontraktor pemerintah yang menangani data milik lebih dari 45 lembaga federal AS. Belakangan terungkap bahwa perusahaan tersebut adalah Opexus, sebuah perusahaan teknologi berbasis di Washington DC yang menyediakan layanan perangkat lunak dan pengelolaan data untuk berbagai instansi pemerintah.

READ ALSO

Completion Of Jeneponto Wind Farm Accelerated To July

Finland Has An Education System The Other Country Should Learn From

Kasus ini menjadi perhatian luas karena kedua saudara tersebut ternyata memiliki rekam jejak kriminal di bidang siber jauh sebelum direkrut kembali ke industri teknologi. Pada 2015, keduanya pernah terlibat kasus peretasan situs web, pencurian data kartu kredit, hingga penjualan informasi pribadi melalui darknet.

Muneeb saat itu dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, sementara Sohaib menerima hukuman dua tahun penjara. Selain kasus tersebut, Sohaib juga pernah terseret perkara lain ketika bekerja di Departemen Luar Negeri AS. Ia dituduh mencuri data rekan kerja dan memasang perangkat keras secara diam-diam untuk memantau sistem pemerintah.

Meski memiliki latar belakang kriminal serius, keduanya berhasil kembali mendapatkan pekerjaan di sektor teknologi setelah menyelesaikan hukuman mereka. Muneeb mulai bekerja di Opexus pada 2023, sementara Sohaib bergabung setahun kemudian.

Namun menurut pemerintah AS, keduanya kembali melakukan aktivitas ilegal selama bekerja di perusahaan tersebut. Salah satu kasus yang diungkap dalam dokumen pengadilan federal terjadi pada Februari 2025.

Saat itu, Muneeb meminta Sohaib untuk mengambil password plaintext milik seseorang yang mengajukan keluhan melalui portal Equal Employment Opportunity Commission (EEOC). Sohaib kemudian mengakses database EEOC dan memberikan password tersebut kepada saudaranya.

Password itu kemudian digunakan Muneeb untuk mengakses akun e-mail korban tanpa izin. Penyelidikan lebih lanjut juga menemukan bahwa Muneeb telah mengumpulkan sekitar 5.400 username dan password dari jaringan internal perusahaan.

Tidak berhenti di situ, ia bahkan membuat sejumlah script Python untuk mencoba kombinasi login tersebut ke berbagai layanan populer. Salah satu script bernama “marriott_checker.py” digunakan untuk menguji login ke jaringan hotel Marriott.

Aksi tersebut disebut berhasil membuka akses ke ratusan akun milik korban, termasuk akun maskapai penerbangan dan layanan digital seperti DocuSign. Dalam beberapa kasus, Muneeb bahkan menggunakan poin penerbangan milik korban untuk bepergian.

Situasi mulai berubah ketika perusahaan akhirnya mengetahui masa lalu kriminal kedua saudara itu pada Februari 2025. Pada 18 Februari, Muneeb dan Sohaib dipanggil menghadiri rapat daring melalui Microsoft Teams. Dalam rapat tersebut, keduanya langsung diberhentikan dari pekerjaan mereka.

Rapat berakhir sekitar pukul 16.50 waktu setempat. Lima menit kemudian, Sohaib mencoba kembali mengakses jaringan perusahaan. Namun akses VPN dan akun Windows miliknya sudah dinonaktifkan oleh perusahaan.

Ilustrasi hacker.

Sayangnya, perusahaan ternyata lupa memblokir akun milik Muneeb. Kelalaian itu menjadi titik awal aksi balas dendam digital yang kemudian menyebabkan kerusakan besar.

Pada pukul 16.56, Muneeb mulai mengakses salah satu database pemerintah federal yang dikelola perusahaan. Ia menjalankan perintah untuk memblokir pengguna lain agar tidak dapat terhubung ke database tersebut.

Setelah itu, ia mulai menghapus database satu per satu. Dua menit kemudian, database milik Departemen Keamanan Dalam Negeri AS ikut dihapus menggunakan perintah “DROP DATABASE dhsproddb.”

Tak berhenti di sana, Muneeb juga mencoba menghilangkan jejak digital aksinya. Pada pukul 16.59, ia menggunakan chatbot AI untuk mencari cara menghapus log sistem.

Ia menanyakan bagaimana cara menghapus system logs dari SQL Server setelah menghapus database, lalu kembali bertanya bagaimana menghapus seluruh event dan application logs dari Microsoft Windows Server 2012.

Dalam waktu sekitar satu jam, Muneeb berhasil menghapus sekitar 96 database pemerintah federal. Database tersebut berisi berbagai informasi penting, termasuk dokumen Freedom of Information Act dan data investigasi federal.

Selain menghapus database, ia juga mengunduh 1.805 file milik EEOC ke USB drive serta mencuri informasi pajak federal milik sedikitnya 450 orang.

Selama aksi berlangsung, kedua saudara itu terus berdiskusi mengenai penghancuran data tersebut. Dalam salah satu percakapan, Sohaib mengatakan bahwa ia melihat daftar backup database perusahaan mulai dibersihkan.

Muneeb tampak tenang dan menganggap kerusakan yang dibuat masih bisa dipulihkan melalui backup sistem. Namun percakapan lain menunjukkan bahwa keduanya sempat membahas kemungkinan menghapus filesystem dan bahkan memeras perusahaan demi uang.

Sohaib menyarankan agar mereka memiliki “kill script” untuk menghancurkan sistem lebih jauh. Namun Muneeb menolak ide pemerasan karena menganggap hal itu justru akan menjadi bukti jelas keterlibatan mereka.

Setelah seluruh aksi selesai, kedua saudara tersebut bahkan memasang ulang sistem operasi laptop perusahaan mereka dengan bantuan pihak ketiga yang identitasnya tidak disebutkan.

Sekitar tiga minggu kemudian, aparat federal menggerebek rumah mereka di Alexandria, Virginia. Dalam penggeledahan tersebut, aparat menyita berbagai perangkat elektronik serta tujuh senjata api.

Penemuan senjata itu menjadi masalah tambahan karena Sohaib sebenarnya dilarang memiliki senjata api akibat catatan kriminal sebelumnya.

Keduanya akhirnya ditangkap pada Desember 2025 dan didakwa atas berbagai tindak pidana siber. Muneeb lebih dulu menandatangani pengakuan bersalah pada April 2026. Namun belakangan ia mencoba mencabut pengakuan tersebut melalui surat tulisan tangan dari penjara.

Dalam surat itu, ia mengklaim pengacaranya tidak bekerja efektif dan meminta izin untuk membela dirinya sendiri di pengadilan.

Berbeda dengan saudaranya, Sohaib memilih menjalani persidangan penuh. Pada 7 Mei 2026, juri federal menyatakan dirinya bersalah atas konspirasi penipuan komputer, perdagangan password ilegal, dan kepemilikan senjata api secara ilegal.

Kasus ini juga menjadi tamparan bagi Opexus. Perusahaan akhirnya mengakui bahwa mereka memang melakukan pemeriksaan latar belakang terhadap kedua saudara tersebut sebelum merekrut mereka. Namun perusahaan mengakui pemeriksaan tambahan seharusnya dilakukan lebih mendalam.

Selain itu, perusahaan juga mengakui proses pemecatan tidak dijalankan dengan baik. Kelalaian dalam menonaktifkan akun Muneeb menjadi faktor utama yang memungkinkan aksi penghancuran data terjadi hanya beberapa menit setelah pemecatan.

Kasus Akhter bersaudara kini menjadi salah satu contoh paling serius mengenai ancaman insider threat dalam dunia keamanan siber. Berbeda dengan serangan hacker dari luar, ancaman dari orang dalam sering kali lebih berbahaya karena pelaku memiliki akses langsung ke sistem sensitif.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keamanan siber tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada pengawasan internal, manajemen akses, dan prosedur keamanan perusahaan yang disiplin.

Di era digital saat ini, satu kelalaian kecil seperti lupa menonaktifkan akun karyawan dapat berujung pada kerugian besar yang memengaruhi institusi penting hingga tingkat pemerintahan.

Tags: database EEOCdua saudara kembarkejahatan siber

Related Posts

BERITA DUNIA

Completion Of Jeneponto Wind Farm Accelerated To July

Januari 10, 2026
BERITA DUNIA

Finland Has An Education System The Other Country Should Learn From

Desember 31, 2025
BERITA DUNIA

Here Are 10 Countries With Highest Population In The World

Desember 14, 2025
BERITA DUNIA

Japan probe finds more universities discriminated against women

Desember 7, 2025

POPULAR NEWS

manchester city vs arsenal

Mampukah Arsenal Memutus Kutukan Manchester City demi Gelar Juara?

April 25, 2026
Lewandowski Tinggalkan Barcelona Akhir Musim Ini

Lewandowski Tinggalkan Barcelona Akhir Musim Ini

Mei 17, 2026

Police Officers From The K9 Unit During A Operation To Find Victims

April 25, 2026
atalanta vs bayer munchen

Atalanta vs Bayern Munchen: Uji Nyali Sang Kuda Hitam di Hadapan Raksasa Bavaria

April 18, 2026

Celebrate Nyepi In True Bali Spirit With A Luxurious Day Of Silence

Januari 8, 2026

EDITOR'S PICK

barcelona vs madrid

Sihir Rashford dan Ketenangan Ferran Torres: Barcelona Hancurkan Real Madrid

Mei 11, 2026

Mount Rinjani to be closed following the Lombok earthquake

Desember 18, 2025

Keep Calm And Curry On: Must-Try Japanese Restaurants in Bali

Desember 6, 2025

Estimated cost of Central Sulawesi disaster reaches nearly $1B

Januari 19, 2026

About

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

Follow us

Kategori

  • BERITA DUNIA
  • Entertainment
  • Fashion
  • Football
  • KULINER
  • Lifestyle
  • News
  • Politics
  • Teknologi
  • Travel
  • Uncategorized

Recent Posts

  • Dendam Dipecat, Saudara Kembar Hapus Data Pemerintah
  • Lewandowski Tinggalkan Barcelona Akhir Musim Ini
  • Pep Guardiola dan Misi Balas Dendam di Wembley
  • Media Malaysia Kaitkan Mees Hilgers dengan Selangor FC
  • Buy JNews
  • Landing Page
  • Documentation
  • Support Forum

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Homepages
    • Home Page 1
    • Home Page 2
  • News
  • Politics
  • Football
  • Lifestyle
  • KULINER
  • BERITA DUNIA
  • Fashion
  • Entertainment
  • Travel

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In