Istilah “Republik Islam Inggris” mendadak menjadi perhatian publik internasional pada Agustus 2026. Frasa tersebut muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Inggris dengan istilah “Islamic Republic of Britain” dalam sebuah wawancara.
Pernyataan tersebut langsung menimbulkan kontroversi karena Inggris pada kenyataannya bukan republik, melainkan monarki konstitusional. Inggris juga tidak menjadikan Islam sebagai agama negara dan sistem pemerintahannya tidak didasarkan pada hukum Islam.
Lantas, mengapa istilah “Republik Islam Inggris” muncul dan mengapa pernyataan tersebut menjadi isu besar?
Netanyahu Sebut Inggris sebagai “Islamic Republic of Britain”

Dalam wawancara yang diberitakan pada pertengahan Agustus 2026, Netanyahu menggunakan istilah “Islamic Republic of Britain” ketika membahas situasi geopolitik dan isu nuklir.
Ia bahkan menyebut Inggris sebagai negara yang berpotensi menjadi “republik Islam pertama” yang memiliki senjata nuklir. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Netanyahu membicarakan Iran dan kekhawatiran Israel mengenai penyebaran senjata nuklir.
Pernyataan tersebut kemudian mendapatkan sorotan luas karena dianggap menggunakan istilah yang tidak sesuai dengan sistem politik Inggris.
Pemerintah Inggris sendiri mengecam komentar tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima. Pemerintah Inggris juga menyatakan bahwa masalah tersebut telah disampaikan kepada pemerintah Israel.
Dengan demikian, penting untuk memahami bahwa istilah “Republik Islam Inggris” dalam pemberitaan tersebut bukan nama resmi Inggris. Istilah itu merupakan bagian dari pernyataan politik Netanyahu yang kemudian memicu kontroversi.
Inggris Bukan Republik Islam
Secara konstitusional, Inggris memiliki sistem pemerintahan monarki konstitusional dengan demokrasi parlementer.
Kepala negara Inggris adalah raja, sedangkan pemerintahan dijalankan oleh perdana menteri bersama kabinet yang bertanggung jawab kepada parlemen.
Karena itu, menyebut Inggris sebagai “Republik Islam” bukanlah gambaran faktual mengenai bentuk negara tersebut.
Islam memang merupakan salah satu agama yang dianut masyarakat Inggris. Komunitas Muslim juga memiliki jumlah yang cukup besar dan berperan dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, serta budaya Inggris.
Namun, keberadaan komunitas Muslim yang besar tidak berarti Inggris berubah menjadi negara Islam.
Inilah salah satu hal yang penting dibedakan ketika membahas isu tersebut agar masyarakat tidak menerima istilah kontroversial sebagai fakta politik.
Mengapa Pernyataan Ini Muncul Sekarang?
Pernyataan Netanyahu muncul ketika hubungan Inggris dan Israel sedang mengalami ketegangan politik yang cukup serius.
Perbedaan pandangan kedua negara antara lain berkaitan dengan perang Gaza, kebijakan terhadap Israel, serta isu Palestina.
Dalam konteks tersebut, komentar mengenai “Islamic Republic of Britain” dapat dipahami sebagai bagian dari kritik politik Netanyahu terhadap perubahan sikap Inggris terhadap sejumlah isu Timur Tengah. Media internasional juga mengaitkan pernyataan tersebut dengan semakin kritisnya pemerintah Inggris terhadap kebijakan Israel.
Situasi ini membuat pernyataan tersebut tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik Timur Tengah yang lebih luas.
Ketegangan antara Israel, Iran, Inggris, dan negara-negara Barat selama beberapa tahun terakhir telah membuat isu mengenai Islamisme, keamanan nasional, terorisme, dan pengaruh Iran menjadi semakin sensitif.
Inggris Justru Memperketat Kebijakan terhadap Iran
Menariknya, pada saat muncul istilah “Republik Islam Inggris”, pemerintah Inggris justru sedang mengambil sejumlah tindakan tegas terhadap Republik Islam Iran.
Pada Juli 2026, pemerintah Inggris memanggil pejabat diplomatik Iran di London berkaitan dengan dugaan aktivitas Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC dalam mengarahkan kelompok proksi melakukan serangkaian serangan di Eropa. Pemerintah Inggris menyatakan aktivitas tersebut mengancam keamanan Inggris dan sekutunya.
Parlemen Inggris juga membahas ancaman yang berkaitan dengan aktivitas negara asing, termasuk Iran.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan Inggris terhadap Iran tidak bisa secara sederhana digambarkan sebagai sikap yang mendukung rezim Islam di Teheran.
Sebaliknya, pemerintah Inggris menyatakan bahwa keamanan nasional merupakan prioritas dan akan mengambil langkah untuk menghadapi ancaman yang berasal dari aktivitas negara asing.
Isu Islamisme dan Keamanan Inggris

Di balik kontroversi istilah tersebut terdapat persoalan yang memang sedang menjadi perhatian pemerintah Inggris, yaitu ancaman ekstremisme dan aktivitas negara asing.
Laporan House of Commons Library pada Juni 2026 membahas aktivitas Iran sebagai ancaman negara di Inggris. Laporan tersebut mencatat bahwa Iran memiliki sejarah aktivitas yang menargetkan pembangkang, jurnalis, serta kelompok oposisi di luar negeri.
Namun, persoalan tersebut berbeda dengan klaim bahwa Inggris telah menjadi negara Islam.
Ancaman dari kelompok ekstremis, aktivitas intelijen asing, dan keberadaan komunitas Muslim merupakan tiga hal yang berbeda. Mencampurkan ketiganya dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Mengapa Istilah Ini Menjadi Sensitif?
Istilah “Republik Islam Inggris” menjadi sensitif karena menyentuh dua persoalan sekaligus: identitas agama dan politik.
Di satu sisi, Inggris memang memiliki populasi Muslim yang signifikan. Di sisi lain, sebagian kelompok politik di Eropa menggunakan isu imigrasi dan Islam untuk membangun dukungan politik.
Dalam situasi seperti ini, istilah yang provokatif dapat dengan mudah menyebar di media sosial tanpa konteks awalnya.
Pernyataan politik seorang tokoh kemudian dapat berubah menjadi judul yang seolah-olah menggambarkan kondisi sebuah negara secara faktual.
Padahal, konteks sebenarnya sangat penting.
Dalam kasus ini, tidak terdapat dasar bahwa Inggris secara resmi mengubah bentuk negaranya menjadi republik Islam. Inggris tetap memiliki sistem monarki konstitusional dan pemerintahan parlementer.
Hubungan Inggris dan Iran Juga Sedang Memanas
Selain hubungan Inggris-Israel, isu tersebut juga muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara London dan Teheran.
Pada Juli 2026, Iran memanggil duta besar Inggris untuk menyampaikan protes terhadap kebijakan Inggris yang menetapkan IRGC sebagai ancaman keamanan nasional.
Sementara itu, pemerintah Inggris terus menyatakan kekhawatiran terhadap aktivitas Iran dan kelompok yang berafiliasi dengannya.
Parlemen Inggris juga mencatat bahwa pemerintah menilai dukungan Iran kepada kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya di Timur Tengah dapat menjadi ancaman terhadap kepentingan Inggris dan stabilitas kawasan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa isu mengenai “Islam”, Iran, Israel, dan Inggris memang sedang berada dalam pusaran geopolitik yang sangat kompleks.
Jangan Salah Memahami “Republik Islam Inggris”
Bagi pembaca, hal paling penting adalah membedakan pernyataan politik dengan fakta kenegaraan.
“Republik Islam Inggris” bukan nama resmi Inggris. Inggris tidak berubah menjadi republik Islam, dan tidak ada pengumuman resmi mengenai perubahan sistem pemerintahan Inggris menjadi negara berbasis agama Islam.
Istilah tersebut menjadi viral karena digunakan Netanyahu dalam pernyataan yang berkaitan dengan kritik terhadap Inggris dan isu Iran.
Oleh karena itu, pemberitaan mengenai istilah tersebut sebaiknya ditempatkan dalam konteks politik internasional, bukan sebagai kabar bahwa Inggris telah mengubah sistem negaranya.
Apa Dampaknya bagi Politik Inggris?
Kontroversi ini berpotensi memperbesar perdebatan mengenai hubungan Inggris dengan Israel, Palestina, Iran, serta kebijakan terhadap ekstremisme.
Bagi pemerintah Inggris, tantangannya adalah mempertahankan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional tanpa memperkeruh hubungan dengan negara-negara sekutu.
Di dalam negeri, pemerintah juga harus menghadapi perdebatan mengenai integrasi, imigrasi, kebebasan beragama, ekstremisme, dan keamanan nasional.
Isu seperti ini sangat mudah menjadi bahan perdebatan politik karena menyentuh identitas masyarakat.
Karena itu, diperlukan kehati-hatian agar kritik terhadap kebijakan pemerintah tidak berubah menjadi generalisasi terhadap kelompok agama tertentu.
Kesimpulan
Isu “Republik Islam Inggris” memang sedang ramai setelah Benjamin Netanyahu menggunakan istilah tersebut dalam pernyataannya pada Agustus 2026.
Namun, istilah itu bukan nama resmi dan bukan gambaran sistem pemerintahan Inggris. Inggris tetap merupakan monarki konstitusional dengan sistem demokrasi parlementer.
Kontroversi tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari meningkatnya ketegangan politik antara Inggris, Israel, Iran, dan negara-negara lain dalam konflik geopolitik Timur Tengah.
Pada saat yang sama, Inggris memang menghadapi persoalan nyata terkait keamanan nasional, aktivitas negara asing, ekstremisme, serta hubungan dengan Iran. Pemerintah Inggris bahkan telah mengambil sejumlah langkah tegas terhadap aktivitas yang dianggap mengancam keamanan nasional.
Isu “Republik Islam Inggris” pada akhirnya lebih mencerminkan panasnya pertarungan narasi politik global daripada perubahan nyata terhadap bentuk negara Inggris.



















