Piala Dunia 2026 mulai memasuki fase krusial. Sejumlah tim sudah harus mengakhiri perjalanan mereka lebih cepat setelah gagal meraih hasil positif dalam dua pertandingan awal fase grup. Nama terbaru yang dipastikan tersingkir adalah Yordania, yang kehilangan peluang lolos setelah menelan kekalahan dramatis dari Aljazair pada laga kedua Grup J.
Kekalahan tersebut membuat Yordania menjadi salah satu tim pertama yang harus angkat koper dari turnamen sepak bola terbesar di dunia. Mereka menyusul Haiti, Turki, dan Tunisia yang sebelumnya sudah lebih dulu dipastikan tidak dapat melanjutkan langkah ke babak 32 besar.
Bagi Yordania, hasil ini tentu menjadi akhir yang pahit. Negara asal Timur Tengah tersebut datang ke Piala Dunia 2026 dengan semangat tinggi setelah berhasil mencatatkan sejarah sebagai salah satu tim debutan di turnamen ini. Namun, pengalaman pertama mereka di panggung terbesar sepak bola dunia ternyata tidak berjalan sesuai harapan.
Pada pertandingan melawan Aljazair yang berlangsung di San Francisco Bay Area Stadium, Yordania sebenarnya sempat berada dalam posisi yang menguntungkan. Mereka berhasil unggul lebih dulu melalui gol yang dicetak Al Rashdan pada babak pertama.

Gol tersebut sempat membuka peluang bagi Yordania untuk menjaga asa lolos ke fase gugur. Jika mampu mempertahankan keunggulan hingga laga berakhir, mereka akan mengoleksi tiga poin dan tetap memiliki kesempatan bersaing pada pertandingan terakhir grup.
Namun, sepak bola sering kali menghadirkan cerita yang sulit diprediksi.
Aljazair berhasil bangkit pada babak kedua dan membalikkan keadaan. Dua gol yang lahir dari situasi bola mati menjadi mimpi buruk bagi Yordania. Pertahanan mereka gagal mengantisipasi dua skema sepak pojok yang berujung gol bagi wakil Afrika tersebut.
Gol penyama kedudukan dicetak Benbouali melalui sundulan keras yang gagal diantisipasi penjaga gawang Yordania. Ketika pertandingan tampak akan berakhir imbang, Aljazair kembali menghukum lawannya lewat aksi Gouiri yang sukses memanfaatkan kemelut di depan gawang.
Gol pada menit-menit akhir itu memastikan kemenangan Aljazair dengan skor 2-1 sekaligus menghancurkan harapan Yordania untuk bertahan lebih lama di turnamen.
Kekalahan tersebut membuat Yordania tetap berada di dasar klasemen Grup J tanpa poin dari dua pertandingan. Sebelumnya mereka juga harus mengakui keunggulan Austria dengan skor 1-3 pada laga pembuka.
Secara matematis, Yordania memang masih memiliki satu pertandingan tersisa melawan Argentina. Namun, hasil apa pun dalam laga tersebut tidak akan cukup untuk mengubah nasib mereka.

Bahkan jika berhasil mengalahkan Argentina dan mengumpulkan tiga poin, posisi Yordania tetap tidak dapat melampaui tim-tim pesaing yang sudah unggul dalam rekor pertemuan langsung. Aturan head-to-head yang digunakan FIFA pada Piala Dunia 2026 menjadi faktor utama yang membuat peluang mereka tertutup.
Kondisi serupa sebelumnya juga dialami beberapa tim lain yang sudah lebih dulu dipastikan tersingkir.
Haiti menjadi negara pertama yang harus mengakhiri petualangannya di Piala Dunia 2026. Tim asal Karibia tersebut gagal meraih satu poin pun setelah kalah dari Skotlandia dan Brasil dalam dua pertandingan awal Grup C.
Meski masih memiliki satu laga tersisa, Haiti tidak lagi memiliki peluang untuk memperbaiki posisi mereka. Kekalahan dari Skotlandia membuat mereka kalah dalam perhitungan head-to-head sehingga mustahil finis di atas salah satu pesaing utama mereka.
Partisipasi Haiti kali ini sebenarnya cukup bersejarah karena menjadi penampilan kedua mereka sepanjang sejarah Piala Dunia. Sayangnya, perjalanan tersebut harus berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.
Nasib serupa dialami Turki yang datang ke turnamen dengan ekspektasi cukup tinggi. Tim asuhan Vincenzo Montella dianggap memiliki skuad yang mampu memberikan kejutan, terutama dengan kehadiran sejumlah pemain muda berbakat yang tampil di kompetisi elite Eropa.
Namun kenyataan di lapangan berkata lain.
Turki kalah 0-2 dari Australia pada pertandingan pertama sebelum kembali tumbang 0-1 saat menghadapi Paraguay. Hasil tersebut membuat mereka mengakhiri dua pertandingan awal tanpa satu poin pun.
Yang menarik, Turki sebenarnya tampil cukup dominan dalam sejumlah aspek permainan. Mereka menciptakan puluhan peluang dan melepaskan banyak tembakan ke arah gawang lawan. Akan tetapi, buruknya penyelesaian akhir menjadi masalah utama yang membuat mereka gagal mencetak gol.
Statistik menunjukkan Turki termasuk salah satu tim dengan jumlah tembakan terbanyak di fase grup. Sayangnya, efektivitas di depan gawang menjadi pembeda yang membuat mereka harus pulang lebih awal.
Pelatih Vincenzo Montella mengaku kecewa dengan hasil tersebut, tetapi tetap memberikan apresiasi kepada para pemain yang dinilai telah berjuang maksimal sepanjang pertandingan.
Sementara itu, Tunisia menjadi tim ketiga yang lebih dulu dipastikan tersingkir sebelum Yordania menyusul. Wakil Afrika Utara tersebut mengalami perjalanan yang sangat berat di Grup F.
Mereka membuka turnamen dengan kekalahan telak 1-5 dari Swedia. Hasil buruk tersebut bahkan membuat federasi sepak bola Tunisia mengambil langkah cepat dengan mengganti pelatih kepala.
Namun pergantian pelatih tidak mampu mengubah situasi.
Pada pertandingan berikutnya, Tunisia kembali mengalami kekalahan setelah dibantai Jepang dengan skor 0-4. Hasil tersebut membuat mereka terdampar di posisi terbawah klasemen dan kehilangan peluang lolos.
Meski masih memiliki satu laga tersisa menghadapi Belanda, Tunisia tidak lagi mampu mengejar para pesaingnya di grup.
Dengan tersingkirnya Haiti, Turki, Tunisia, dan kini Yordania, persaingan menuju babak 32 besar semakin mengerucut. Sejumlah tim lain masih berada dalam posisi rawan dan harus berjuang pada pertandingan terakhir fase grup.
Negara-negara seperti Irak, Senegal, Panama, Uzbekistan, Kroasia, dan beberapa tim lainnya masih menghadapi ancaman eliminasi apabila gagal meraih hasil positif pada laga berikutnya.
Di sisi lain, beberapa negara sudah mulai mengamankan tempat di fase gugur. Tim-tim unggulan seperti Argentina, Brasil, Prancis, dan Jepang menunjukkan performa yang cukup konsisten dalam dua pertandingan awal mereka.
Piala Dunia 2026 sendiri menghadirkan format baru dengan jumlah peserta yang lebih banyak dibandingkan edisi sebelumnya. Hal ini membuat persaingan menjadi lebih ketat sekaligus membuka peluang bagi negara-negara yang sebelumnya jarang tampil di turnamen besar.
Meski demikian, pengalaman tetap menjadi faktor penting. Tim-tim debutan seperti Yordania harus belajar bahwa tampil di Piala Dunia membutuhkan lebih dari sekadar semangat dan motivasi. Konsistensi, pengalaman menghadapi tekanan, serta kemampuan memanfaatkan peluang menjadi elemen yang menentukan keberhasilan di level tertinggi.
Bagi Yordania, kegagalan kali ini tentu menjadi pelajaran berharga. Meski harus pulang lebih cepat, mereka telah mencatat sejarah dengan tampil di panggung sepak bola terbesar dunia. Pengalaman tersebut dapat menjadi modal penting untuk membangun tim yang lebih kuat pada masa mendatang.
Sementara itu, persaingan di fase grup Piala Dunia 2026 masih akan terus berlangsung. Drama baru dipastikan akan hadir dalam beberapa hari ke depan ketika tim-tim yang masih berjuang memperebutkan tiket menuju babak gugur memainkan pertandingan penentuan mereka.





















